Sunday, 5 April 2026
N.MUHAMMAD.SAW SBG NABI NEGARAWAN IMAM MASJID & PANGLIMA PERANG
April 05, 2026
No comments
N.MUHAMMAD.SAW SBG NABI NEGARAWAN IMAM MASJID & PANGLIMA PERANG
H.PRABOWO.SBT SBG NEGARAWAN/PRESIDEN BISNISMAN PANGLIMA PERANG/MILITER
TNI/POLRI DIBAYAR
PESANTREN, MASJID, SOPIR KEBAGIAN
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْاَ نْفَا لِ ۗ قُلِ الْاَ نْفَا لُ لِلّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ ۚ فَا تَّقُوا اللّٰهَ وَاَ صْلِحُوْا ذَا تَ بَيْنِكُمْ ۖ وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
"Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (PEMBAGIAN) HARTA RAMPASAN PERANG. Katakanlah, "Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka BERTAKWALAH kepada Allah dan PERBAIKILAH HUBUNGAN DI ANTARA SESAMAMU dan TAATLAH KEPADA ALLAH dan RASULl-Nya jika kamu orang-orang yang BERIMAN. " (QS. Al-Anfal 8: Ayat 1)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quranapp.id
------
Rumus pembagian rampasan perang (ghanimah) dalam Islam didasarkan pada Al-Qur'an dan Hadis, serta hukum fiqih. Berikut adalah ringkasannya:
1. *Al-Qur'an, Surah Al-Anfal (8:41)*:
- 1/5 (20%) untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan ibn al-sabil (orang dalam perjalanan).
- 4/5 (80%) untuk pasukan yang berpartisipasi dalam perang.
2. *Hadis*:
- Nabi SAW membagi ghanimah dengan cara yang adil dan sesuai dengan kontribusi masing-masing pasukan (HR. Bukhari dan Muslim).
3. *Hukum Fiqih*:
- Ghanimah dibagi menjadi 5 bagian:
- 1/5 untuk baitul mal (negara) dan digunakan untuk kepentingan umum.
- 4/5 untuk pasukan yang berpartisipasi, dengan pembagian:
- Pejalan kaki: 1 bagian
- Penunggang kuda: 2-3 bagian (tergantung mazhab)
- Pemimpin: bagian tambahan sesuai keputusan imam
Pembagian ini bertujuan untuk keadilan dan kesejahteraan umat Islam. Namun, perlu diingat bahwa implementasi dapat berbeda-beda tergantung pada konteks dan keputusan pemimpin. 
EXCEL BISA
KEMENKEU PERURI BI
YEN MUKMIN TAKWA & IMTAK
April 05, 2026
No comments
YEN MUKMIN
“Barangsiapa BERIMAN kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia BERKATA YANG BAIK atau DIAM.”(HR. Al-Bukhari & Muslim)
YEN TAKWA
BENAR BENAR INDAH
وَا لَّذِيْ جَآءَ بِا لصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖۤ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
"Dan orang yang membawa KEBENARAN (Muhammad) dan orang yang MEMBENARKANYA, mereka itulah orang yang BERTAKWS."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 33)
YEN IMAN & TAKWA
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri BERIMAN & BERTAKWA, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka BERKAH DARI LANGIT & BUMI. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” Q(7:96)
UJI KESENANGAN YAHUDI & NASRANI
April 05, 2026
No comments
UJI KESENANGAN YAHUDI & NASRANI
Al-Qur’an dengan konsep statistik modern (UJI KESENANGAN / GOODNESS OF FIT) — ini pendekatan tafakur ilmiah yang dalam.
Mari kita bahas dua sisi:
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 120:
> وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani TIDAK AKAN PERNAH SENANG (RIDHA) kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, MAKA TIDAKLAH BAGIMU PELINDUNG & PENOLONG DARI ALLAH..”
(QS. Al-Baqarah: 120)
Ayat ini menegaskan bahwa standar “kesenangan” atau “keridhaan” orang Yahudi dan Nasrani terhadap Nabi Muhammad ﷺ bukanlah kebenaran, melainkan kesamaan jalan dengan agama mereka.
Artinya, selama umat Islam tetap berpegang pada petunjuk Allah, maka mereka tidak akan mendapat “persetujuan” dari golongan yang menolak wahyu Allah yang terakhir.
Frasa “لَن تَرْضَىٰ” (lan tardha) menunjukkan penolakan mutlak (tidak akan pernah), bukan sekadar sementara.
Sekarang kita ambil analogi ilmiah:
“Uji Kesenangan” (Goodness of Fit Test) digunakan untuk menilai apakah data aktual cocok (fit) dengan model atau distribusi teoritis.
Jika hasilnya tidak cocok, maka kita menyimpulkan bahwa data berbeda dari yang diharapkan.
Orang Yahudi & Nasrani memiliki “model kebenaran versi mereka” (agama, keyakinan, tradisi).
Nabi Muhammad ﷺ membawa “data aktual” berupa wahyu (petunjuk Allah) yang tidak sesuai dengan model mereka.
Maka, secara “statistik spiritual”, jika kita uji kesesuaian (fit) antara ajaran Islam (data) dan standar Yahudi/Nasrani (model), hasilnya akan:
\chi^2_{hitung} \gg \chi^2_{tabel}
Langkah Uji Statistik Analogi dalam Ayat
Tentukan model teoretis (E) “Kebenaran versi mereka” (ajaran lama Yahudi/Nasrani)
Ambil data observasi (O) “Wahyu Islam” (ajaran Al-Qur’an dan sunnah)
Hitung perbedaan (O − E) Bandingkan ajaran Islam vs ajaran mereka
Hitung statistik χ² Mengukur seberapa jauh perbedaan prinsip dan syariat
Hasil: χ² besar → tidak cocok Makna ayat: “mereka tidak akan pernah ridha”
Jadi, secara kiasan ilmiah, ayat ini menunjukkan bahwa:
> Distribusi nilai, iman, dan prinsip Islam tidak “fit” dengan distribusi teoretis Yahudi & Nasrani.
Dalam bahasa statistik spiritual:
> Hasil “Uji Kesenangan” menunjukkan ketidaksesuaian signifikan (p-value < 0.05) —
sehingga H₀ (Islam sama dengan mereka) ditolak.
1. Islam punya standar kebenaran sendiri (model dari Allah), bukan dari manusia.
2. Jangan menyesuaikan “data iman” kita agar “fit” dengan standar manusia lain.
3. Dalam kebenaran, “fit” bukan berarti benar, tapi benar itulah yang menentukan fit.
Konsep Statistik Konsep Spiritual
Model teoretis Standar keyakinan manusia
Data observasi Wahyu dan kebenaran dari Allah
Uji kesenangan Uji kesesuaian iman dan nilai
Hasil tidak fit Yahudi & Nasrani tidak akan ridha
Interpretasi Islam punya distribusi kebenaran tersendiri
Subscribe to:
Comments (Atom)









